Selasa, 21 April 2015

TENTANG MANAJEMEN SEKTOR PUBLIK TERKAIT DILEMPARNYA HARGA BBM KE MEKANISME PASAR

Bagaimana manajemen sektor publik terkait dengan penerbitan kartu Indonesia sehat (KIS), kartu Indonesia pintar (KIP), dan kartu keluarga sejahtera (KKS) dalam rangka mengantisipasi dampak kenaikan harga bahan bakar terhadap kelompok miskin?


Analisis dari aspek legal, tingkat keberlangsungan, manfaat, dan hambatan dari kebijakan tersebut.
Secara teoritis sedikitnya ada tiga fungsi utama yang harus dijalankan oleh pemerintah tanpa memandang tingkatannya, yaitu fungsi pelayan masyarakat (public service function), fungsi pembangunan (development function) dan fungsi perlindungan (protection function). Sesuai dengan apa yang dibahas di sini, maka saya akan lebih focus membahas fungsi yang pertama, yaitu fungsi pelayan masyarakat. Logika awal yang akan dibangun adalah, dengan dikuranginya subsidi BBM, dan dialihkan ke sector yang lebih produktif, maka fungsi-fungsi utama pelayanan pemerintah harus meningkat tanpa syarat dan tanpa alasan apapun lagi.
_______________________________________________
Manajemen publik merupakan sebuah kinerja yang kompleks dari aktornya yaitu pemerintah dan seluruh pegawainya untuk melayani publik (masyarakat) dengan sebaik-baiknya dan publik merasa terpenuhi semua kebutuhannya. Terkait dengan penerbitan kartu sehat, pintar, dan Indonesia sejahtera, pemerintah di era Jokowi-Jusuf Kalla mencoba untuk memberikan kemudahan kepada masyarakat tidak mampu untuk dapat menjangkau hak-hak mereka secara lebih mudah di bidang kesehatan, pendidikan, maupun kesejahteraan.
Dengan dipangkasnya subsidi BBM, pemerintah memutar otak untuk meredam dampak domino dari penaikan harga BBM terhadap seluruh sendi kehidupan masyarakat. Subsidi yang tadinya untuk BBM, dialihkan ke sektor yang lebih produktif, termasuk pada sektor infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan. Melalui penambahan dana dari pengalihan subsidi BBM ini, masyarakat diharapkan dapat memperoleh pelayanan publik yang lebih berkualitas, salah satunya dengan diterbitkan beberapa kebijakan, seperti; kartu Indonesia sehat, pintar, dan kartu keluarga sejahtera.
Melalui kartu-kartu sakti yang diterbitkan pemerintah, masyarakat tidak perlu repot lagi untuk menembus ribetnya birokrasi, karena hanya dengan kartu-kartu ini, semua proses akan lebih praktis. Tidak  takut terhadap biaya yang akan dikenakan, karena biaya sudah ditanggung baik dari pemerintah maupun dari masyarakat sendiri melalui pembayaran premi yang sangat terjangkau. Pada akhirnya, masyarakat dapat merasakan langsung manfaat dikurangi subsidi BBM yang telah dialihkan ke sektor yang lebih produktif.
Berbicara mengenai anggaran, anggaran KIS Badan Penyelenggaran Jaminan Sosial (BPJS) kesehatan. Sementara itu, anggaran KIP adalah anggaran yang dialokasikan untuk bantuan Beasiswa Siswa Miskin (BSM). Jadi boleh dibilang, KIS, KIP, maupun KKS ini secara hukum kuat karena ditopang oleh aturan yang membawahi BPJS maupun UU yang mengatur tentang BSM. Pada nantinya, anggaran dari semua kebijakan tersebut akan dimasukkan pada APBN 2015.
Pada intinya, dengan dikeluarkan kartu-kartu ini, masyarakat akan lebih dimudahkan untuk mengurus hal-hal yang terkait dengan hak mereka sebagai warga negara. Pelayanan publik yang efektif, efisien, dan inovatif dapat ditemui di setiap sektor pemerintahan. Sedikit demi sedikit, manajemen pelayanan publik yang konvensional akan dikurangi. Kita tinggal melihat bagaimana dan sejauhmana implementasi dari kebijakan ini dapat dilaksanakan.
Bukan tanpa hambatan, munculnya kartu-kartu sakti yang dikeluarkan oleh pemerintah bukanlah tanpa hambatan. Awal peluncuran program ini, beberapa kritik muncul dari beberapa elemen masyarakat maupun tokoh nasional. Ada yang menyebut program ini akan tumpang tindih dengan program-program pemerintah sebelumnya. Misal untuk KIS, akan tumpang tindih dengan JKN. Ataupun dengan KIP, akan saling tumpuk dengan program BSM.
Maka dari itu pemerintah menjelaskan bahwa, kebijakan kartu sakti ini bukanlah menggantikan secara menyeluruh kebijakan-kebijakan pemerintah sebelumnya. KIS dan KIP merupakan penyempurnaan dari program pemerintah sebelumnya. Misal untuk KIS, program ini memiliki cakupan yang lebih luas dari JKN. Jadi JKN dan KIS ini kartunya, sedang pelaksananya adalah BPJS. Masyarakat yang terdaftar di JKN, otomatis mendapatkan KIS. Bias dibilang kebijakan kartu sakti ini hanyalah program yang ganti nama, namun disertai dengan penyempurnaan.
Dari sisi implementasi, masih banyak celah yang dapat dilihat. Ada beberapa kasus Rumah Sakit yang menolak pasien miskin, masih butanya pemangku kepentingan yang terlibat, belum adanya standar baku pelayanan yang disepakati bersama, adalah hambatan yang mengemuka. Distribusi kartu sakti ini masih belum merata. Luasnya Indonesia dan bentuknya yang berpulau-pulau, membuat distribusi kartu-kartu sakti ini masih tersendat, hingga pencetakan kartu ini masih banyak celahnya. Anggaran yang masih menopang APBN 2014 dan belum pasti masuk APBN 2015 membuat banyak orang bertanya-tanya tentang keberlangsungan kebijakan ini. Apakah hanya kebijakan sesaat di orde Jokowi-JK ini dan akan terbelenggu alotnya situasi politik antara Eksekutif dan Legislatif (DPR).
Jika dilihat lebih cermat lagi, masih ada beberapa cacat yang terdapat dalam kebijakan kartu ini. Terlalu banyaknya kartu, memunculkan banyak anekdot bahwa sekarang adalah jamannya kartu-kartuan. Padahal, ada cara yang lebih praktis lagi yakni dengan hanya menggunakan E-KTP. Dengan E-KTP, semua jenis kartu-kartu sakti tersebut dapat terintegrasi menjadi satu. Hanya menggunakan nomor induk, pemerintah sudah mengetahui latar belakang penduduk mulai dari pendidikan, kesehatan, criminal, dll. Namun apa daya, proyek E-KTP justru mandeg karena kasus korupsi.
_______________________________________________
Pasca naiknya harga BBM, tidak dapat dipungkiri memunculkan beragam polemik di masyarakat. Efek domino naiknya harga BBM baik langsung maupun tak langsung berdampak pada kehidupan masyarakat, terutama masyarakat miskin dan rentan kemiskinan yang berpenghasilan tetap. Oleh karena itu, pemerintah yang bertanggung jawab penuh terhadap naiknya BBM ini harus meningkatkan kinerjanya untuk kepentingan rakyat. Salah satunya adalah dengan mengeluarkan kebijakan yang dapat meredam dampak kenaikan BBM, salah satunya adalah dengan program kartu-kartu sakti ini. Meski BBM naik, dan beberapa harga kebutuhan pokok juga naik, namun kemudahan masyarakat dalam menjangkau pelayanan kesehatan, pendidikan, infrastruktur, dan kebijakan subsidi tepat sasaran melalui program KKS, akan meredam dampak domino naiknya BBM itu sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar